Keblinger

Keblinger

Renungan harian 31 Desember 2011- Seorang Sahabat

| Sabtu, 31 Desember 2011

Renungan harian 31 Desember 2011- Seorang Sahabat

Sabtu, 31 Desembre 2011
1Yoh 2:18-21,
Mzm 96:1-2,11-12,13,
Yoh 1:1-18
Bacaan Injil : Yoh. 1:1–18
Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan. Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya. Datanglah seorang yang diutus Allah, namanya Yohanes; ia datang sebagai saksi untuk memberi kesaksian tentang terang itu, supaya oleh dia semua orang menjadi percaya. Ia bukan terang itu, tetapi ia harus memberi kesaksian tentang terang itu. Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia. Ia telah ada di dalam dunia dan dunia dijadikan oleh-Nya, tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Ia datang ke­pada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran. Yohanes memberi kesaksian tentang Dia dan berseru, katanya: ”Inilah Dia, yang kumaksudkan ketika aku berkata: Kemudian dari padaku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.” Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia; sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya.
Renungan
Seperti apa arti seorang sahabat bagi anda? Renungkanlah secara mendalam, karena hadirnya seorang sahabat sangat penting. Saya menawarkan pandanganku tentang sahabat-sahabat sebagai bahan perbandingan renungan anda. Sahabat itu sebetulnya “belahan jiwa”. Ia menjadi tempat berbagi suka dan duka, untung dan malang. Dengan dia kita bisa tertawa dan menangis. Dia menjadi tempat curahan hati yang bisa diandalkan. Ia memberi pandangan dengan penuh kasih. Ia juga bisa mengkritik dengan keras dan mengcam dengan kasar. Apapun bentuknya, seorang sahabat biasanya tidak mempunyai tujuan lain selain demi kebaikan diriku. Ia selalu ada di sampingku.
Dengan sahabatku itu aku berziarah dalam iman. Seperti seorang atlit yang mengikuti lomba lari, kita berada di garis finish. Selama satu tahun ini, kita berjalan bersama sahabat itu, yakni Sang Sabda. Sebagai sahabat, Sang Sabda memberi banyak pandangan, kritikan, teguran bahkan kecaman, tanpa kehilangan rasa pershabatannya, karena sesungguhnya semua ini dilandasi oleh Kasih yang tulus dan ikhlas. Kita berbagi pengalaman, kasih dan penderitaan, keluhan dan penenguhan. Dari Dia, kita memperoleh banyak mutiara berharga. Untuk semua ini, tak ada kata yang layak selain “syukur dan terima-kasih” padaMu O, Yesus, Sang Sabda, Tuhan yang telah menjadi manusia. Sahabatku, Sang Sabda.  Mari berjalan bersamaku selalu. SELAMAT MENGAKHIRI TAHUN 2011 dan berjalanlah dengan langkah pasti menuju gerbang 2012. Yakinlah selalu , bahwa sahabat sejati ini tak pernah meninggalkanmu sendirian did alam ziarah hidupmu di dunia ini***

Semangat Misioner Conforti

| Rabu, 28 Desember 2011

Semangat Misioner Conforti

HIDUPKATOLIK.com - Semangat misioner Mgr Guido Maria Conforti tidak hanya diikuti para imam Xaverian. Umat Katolik di ”Paroki Xaverian” pun tertarik mendalami semangat Conforti.

Mereka akan membentuk semacam paguyuban misioner Xaverian. Mantan Jendral Serikat Xaverian, Pastor Francesco Marini SX, mengungkapkan hal ini saat diwawancarai HIDUP di Wisma Xaverian, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Jumat, 7/10. Berikut petikannya:

Bagaimana semangat misioner Mgr Guido Conforti dapat terus dihayati dan diaktualisasi sesuai dengan perkembangan zaman? 

Keadaan saat Mgr Guido Maria Conforti hidup dan saat ini tentu berbeda. Namun, hal ini bukan hambatan. Conforti tidak pernah menjadi imam misionaris, hingga hubungannya dengan para pastor misionaris Xaverian bersifat sangat dinamis.

Conforti tidak pernah memaksakan peraturan ini dan itu. Jadi, tidak pernah ada ketentuan praktis yang sangat rinci. Satu yang pasti, Conforti selalu menekankan agar para imam Xaverian dekat dengan umat dan masyarakat di tempat mereka berkarya. Ia juga menekankan bahwa pewartaan Injil hendaknya ditujukan kepada masyarakat tempat mereka bermisi. Inilah inspirasi dasar semangat kami dalam melakukan karya kerasulan.

Sebagai pendidik para imam, pengaruh Conforti juga sangat besar. Ia selalu mengarahkan para imamnya untuk terus terbuka pada kebutuhan masyarakat setempat sesuai dengan situasi dan kondisi aktual.

Bagaimana hal ini dipraktikkan secara nyata dalam pendidikan para frater Xaverian? 

Selama masa pendidikan, para frater punya cukup banyak waktu melakukan karya kerasulan dalam bidang katekese, pendidikan, dan dialog antaragama, sehingga mereka memiliki macam-macam pengalaman dalam karya kerasulan.

Mereka terlibat dalam dialog antarumat beragama lewat lembaga yang mewadahi karya seperti ini, seperti di Wahid Institute atau Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP). Mereka juga ikut memperhatikan pendidikan anak jalanan, dan memberi les kepada anak-anak di lingkungan sekitar tempat tinggal mereka.

Apakah semangat dan pandangan hidup Conforti hanya hidup sebatas di kalangan imam Xaverian? 

Tidak. Belakangan banyak umat tertarik mengikuti semangat Conforti. Beberapa warga Paroki Santo Matius Penginjil Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, dan warga Paroki Santa Maria de Fatima Toasebio Glodok, Jakarta Barat tengah menggodok berdirinya semacam paguyuban awam misioner Xaverian. Dua paroki ini adalah tempat para imam Xaverian berkarya.

Bentuk paguyuban dipilih, karena lebih mencerminkan semangat kekeluargaan sebagai sesama pengikut Xaverian. Nantinya, diharapkan paguyuban ini bersifat lintas paroki, hingga tidak hanya beranggotakan umat Katolik di paroki-paroki tempat para imam Xaverian berkarya.


R.B. Yoga Kuswandono

"Conforti Muda" di Jepang dan Kamerun

|

Frater Reynaldo Fulgentio Tardelly SX bersama kaum muda Katolik Kamerun.
HIDUPKATOLIK.com - Cita-cita dan idealisme Mgr Guido Maria Conforti tetap lestari sejak para misionaris Xaverian awal sampai kini. Mereka gigih dan teruji.

Kegigihan pada masa awal Xaverian berdiri benar-benar teruji. Perang Dunia I, guncangan peta politik, revolusi, dan resesi ekonomi pada 1930-an menghadapkan mereka pada berbagai kenyataan yang tidak mengenakkan dalam tugas perutusan. Nyawa pun menjadi taruhan, namun mereka tak gentar. Dengan situasi berbeda sekarang, apakah para Conforti muda masih segigih dahulu?

Gereja bonsai 

Misionaris Xaverian mulai berkarya di Jepang sejak 1949. Awalnya, beberapa misionaris terusir dari tanah misi Cina. Kemudian, mereka mengalihkan misi ke Jepang. Sekarang, di Negeri Sakura, ada 34 imam Xaverian, berkarya sebagai pastoral paroki merangkap mengelola sekolah Katolik, mengajar di sekolah menengah, menjadi dosen, pekerja seni, aktif di lembaga dialog antaragama, serta di pusat studi dan riset budaya (Asian Study Center).

Salah satunya, Alexander Denny Wahyudi SX, imam misionaris Xaverian Indonesia pertama. Ia dikirim SX Indonesia sebagai misionaris, untuk berkarya di Jepang. Dari 34 imam Xaverian di Jepang, 29 berkebangsaan Italia. Lima yang bukan Italia, dua dari Spanyol, satu Brasil, satu Meksiko, dan Alexander Denny dari Indonesia.

Pastor Alexander Denny Wahyudi bersama anak-anak saat mengikuti Summer Camp. [Dok Pribadi]

”Bahasa Italia menjadi pengantar dan digunakan menulis dokumen para Xaverian di Jepang.” Maka, sebelum tinggal di Jepang, pastor rekan Paroki Tetori di Kumamoto ini mendapat tugas belajar bahasa Italia di Ancona, Italia, selama sepuluh bulan. Gereja Katolik Jepang terdiri dari 16 keuskupan, dan semua dipimpin uskup berkebangsaan Jepang. Jumlah umat Katolik Jepang sekitar 450 ribu jiwa, ditambah 500 ribu warga Katolik asing dari Amerika Latin, Filipina, Indonesia, dan negara lain.

Gereja Katolik Jepang seperti bonsai dengan jumlah umat kecil, mayoritas ibu-ibu lansia, dan sulit diharapkan berkembang di masa depan. Kendalanya, faktor SDM terbatas. ”Ada satu keuskupan dengan umat hanya sekitar 5.000 orang. Di Keuskupan Agung Jakarta, paroki dengan 5.000 umat termasuk kecil,” jelasnya.

Di Jepang, satu imam bisa menangani beberapa gereja sekaligus, karena keterbatasan tenaga. Total imam asli Jepang berjumlah hanya sekitar 500 orang, berusia rata-rata 62 tahun, dan 1.000 imam misionaris berusia rata-rata 67 tahun, dari berbagai tarekat religius dan misi.

Kenyataan getir 

Di Jepang, satu paroki memiliki rata-rata 100-800 umat, namun dengan banyak gereja dan paroki. Pastor Denny menjelaskan, ”Kalau dihitung ada sekitar 25 paroki yang dilayani imam Xaverian, hingga satu imam harus hidup sendirian, dan tinggal di satu paroki yang relatif kecil itu.”

Jepang adalah negara misi bagi misionaris, karena sangat sedikitnya umat, yaitu sekitar 0,3 persen (450.000 orang) dari 127 juta penduduk yang ada. Budaya dan bahasa menjadi tantangan tersendiri, karena menuntut ketelatenan dan kesabaran ekstra. Selain itu, para misionaris asing harus menghadapi kenyataan bahwa mereka tidak diterima dengan baik oleh masyarakat Jepang. Hingga kehadiran mereka tidak membawa banyak arti bagi perkembangan Gereja lokal.

Orang Jepang sulit menerima karya pewartaan Injil, karena nilai hedonis sangat kuat merasuk dalam kehidupan mereka. Selain itu, imam misionaris yang handal dan mampu mewartakan, serta mengembangkan karismanya sebagai misionaris juga kurang. Walau bermisi di Jepang dirasa sulit, dengan sedikit sekali harapan, Pastor Alexander Denny Wahyudi tetap teguh menghidupi panggilannya sebagai misionaris di negeri ini. ”Sampai kapan pun, saya siap untuk terus ditugaskan di Jepang,” tuturnya.

Selain di Jepang, misionaris Xaverian juga ada di Afrika. Frater Reynaldo Fulgentio Tardelly SX adalah frater Xaverian Indonesia yang berkarya di Kamerun. Banyak tantangan ia alami di tempat ini. Hidup sebagai misionaris di Afrika saat ini tidak lagi seperti dulu: paroki yang tenang, dikelilingi hutan dan pepohonan lebat, poliklinik, peternakan kecil.

Keluarga Kristus 

Luka yang ditinggalkan oleh perang saudara, kekerasan, dan konflik politik yang berkepanjangan di Afrika membuat para penduduknya membutuhkan terapi yang panjang dan kontinu. Gereja tetap menjadi aktor utama terapi, dengan karya biarawan-biarawati di sekolah, rumah sakit, poliklinik, pusat-pusat pendampingan kaum muda, dan pusat rehabilitasi anak-anak korban perang.

Menurut Frater Reynaldo Fulgentio Tardelly SX, Kamerun dikenal sebagai negara paling aman di Afrika Tengah. Kamerun masih hidup dalam demokrasi terpimpin di bawah rezim Paul Biya. Sepanjang jalan kota, hanya baliho dirinya yang terpajang, meski secara resmi terdapat belasan calon presiden.

”Satu di antara para calon itu Edith Kah Wallah, perempuan muda yang cerdas, yang sering dikatakan calon ‘bikinan’ media internasional yang ingin menggoyang rezim Paul Biya. Meski semua tahu, pemenang pemilu akan tetap sama dengan tahun-tahun lalu.”

Penduduk Kamerun dirundung ketakutan terhadap krisis yang tahun lalu dialami negara tetangga Pantai Gading.

Selain menangani terapi akibat cedera politik dan perang saudara, para misionaris masih harus berhadapan dengan maraknya praktik seks bebas, poligami, konflik antarsuku, mewabahnya sekte-sekte baru, serta gencarnya arus globalisasi yang menggempur kearifan budaya lokal. Pembangunan karakter melalui katekese menjadi poin penting yang terus diusahakan para misionaris.

Di tengah beribu tantangan dan situasi politik yang tidak menentu, Frater Reynaldo Fulgentio Tardelly bergeming. Ia tetap teguh berkarya. Impian Mgr Guido Maria Conforti menjadikan dunia ini sebagai satu keluarga dalam Kristus, menjiwai derap langkahnya untuk terus menghidupi panggilannya sebagai misionaris.


R.B. Yoga Kuswandono

Conforti, Pendidik Imam Misionaris

|
Conforti, Pendidik Imam Misionaris




Mgr Guido Maria Conforti

MAJALAH HIDUP KATOLIK - Sekilas, tak ada yang istimewa dari sosok Guido Maria Conforti. Ia adalah imam yang lahir dari keluarga petani. Sejak kecil, ia sakit-sakitan, terlebih karena gangguan pada bronkhitisnya.

Namun, hal inilah yang membuatnya makin bersemangat memulai dan membangun karya-karya besar. Dan, pada 23 Oktober tahun ini, Guido Conforti dikanonisasi menjadi Santo.

Serikat Misionaris Xaverian (SX) adalah salah satu buah impian dan cita-citanya. Para imam SX telah membuktikan kesanggupannya berkarya di wilayah megapolitan, seperti Jepang hingga negara-negara terbelakang di Benua Afrika.

Guido Conforti lahir pada awal musim semi, 30 Maret 1865, di daerah pertanian dekat Sungai Po, Provinsi Parma, Italia. Ia lahir dari pasangan suami istri petani, Rinaldo Conforti dan Antonia Adorni. Antonia Adorni adalah seorang wanita yang lembut, penuh kasih sayang, dan selalu peduli pada orang miskin.

Sejak kecil, Guido mendapat didikan tentang segala sesuatu yang berbau rohani dari ibunya. Setiap Minggu, Antonia mengajaknya pergi ke gereja di Ravadese. Kepada Guido kecil, Antonia menunjukkan salib dan berkata, “Lihatlah, betapa Yesus sangat menderita!” Rupanya, kata-kata ini menjadi inspirasi bagi Guido untuk makin mencintai Yesus dan mulai meyakini panggilannya menjadi imam.

Saat Guido mengungkapkan keinginannya menjadi imam, ibunya sangat senang. Akan tetapi, ayahnya tidak. Mendengar keinginan putranya, Rinaldo marah. Ia sangat membutuhkan Guido untuk meneruskan usaha pertanian keluarganya. Di samping itu, pada waktu itu imam bukanlah sosok yang dihormati dan dipandang orang. Anak-anak biasa menertawakan para pastor, karena mereka memakai jubah hitam. Di mata anak-anak, mereka terlihat seperti burung gagak. Sementara orang-orang dewasa sering bergumam, “Ada karung arang”, saat mereka berpapasan dengan pastor.

Rinaldo tak ingin anaknya diperlakukan seperti itu oleh masyarakat. Namun, ketika ia mendengar isak tangis Guido, hatinya luluh. Pada Oktober 1876 Guido resmi menjadi siswa seminari. Pada saat berusia 14 tahun, Guido mendapat sebuah buku tentang kisah Santo Fransiskus Xaverius. Tokoh inilah yang akhirnya mendapat tempat di hatinya dan menjadi idola.

Guido sangat terpesona pada karya besar Santo Fransiskus, sekaligus ia merasa terharu dengan cerita tentang saat-saat terakhir Santo Fransiskus menghembuskan napas terakhirnya dengan tangan terulur ke Negeri Cina. Seolah, tokoh idola ini menunjukkan penyesalan, karena tidak dapat pergi ke Cina dan memperkenalkan Kristus di negeri itu.

Pertanyaan demi pertanyaan selalu bergema di benaknya setiapkali ia membaca kisah ini. Tidak adakah seseorang yang mau melanjutkan karya misi Santo Fransiskus? Tidak adakah orang yang dapat meneruskan dan mewujudkan harapan Santo Fransiskus yang belum dapat terlaksana? Mungkinkah dia, Guido, yang akan menjadi orang itu? Demikian bunyi gema-gema tersebut.

Menjadi misionaris akhirnya menjadi cita-cita Guido. Ia sangat terobsesi untuk pergi ke tempat lain dan ke negara lain untuk memperkenalkan Kristus dan mempertobatkan banyak jiwa. Karena Santo Fransiskus Xaverius berasal dari Serikat Yesus (SJ), Guido memberanikan diri menulis surat kepada para pembesar SJ dan mengajukan keinginan menjadi misionaris. Namun, ia menerima jawaban yang penuh ketidakpastian. Para pembesar SJ akan mempertimbangkan cita-citanya ini, tetapi menjadi Yesuit tidak otomatis menjadi misionaris.

Akhirnya, Guido menjadi imam Diosesan. Menjelang tahbisannya, Guido terjatuh di kamarnya dan pingsan. Mukanya pucat. Kejadian seperti ini sering menyerang dirinya. Uskup pun menunda tahbisannya dan menunggu perkembangan kondisi fisiknya.

Guido akhirnya sembuh, berkat doa Beata Anna Maria Carolina Adorni, pendiri Kongregasi Karya Gembala yang Baik dan Suster-Suster Abdi Maria yang Tak Bernoda. Beata Anna Maria berkata, “Berbesar hatilah, Perawan Maria menunggu untuk memberikan anugerahnya. Anda akan menjadi imam dan gembala.”

Setelah sembuh, Guido ditahbiskan menjadi imam Diosesan pada 22 September 1888 pada usia 23 tahun. Setelah didaulat menjadi pemimpin seminari, ia kembali memikirkan cita-citanya menjadi misionaris. Guido berpikir, jika kondisi dan keadaan dirinya tidak memungkinkannya menjalankan tugas misi, maka ia akan mencari dan membina orang-orang yang dapat melanjutkan harapan Santo Fransiskus Xaverius, dengan mendirikan serikat misionaris.

Guido menyampaikan keinginannya kepada Uskup Parma Mgr Andrea Miotti. Mgr Andrea menyambut positif rencananya. Guido diangkat menjadi penasihat uskup dan membeli sebuah rumah sebagai sarana pertama untuk mewujudkan cita-citanya. Pada usia 28 tahun ia mendapat persetujuan dari Paus untuk mendirikan sebuah serikat misionaris, April 1894. Pada Desember 1895, rumah yang ia beli di Jalan Borgo Leon d’Oro, oleh Uskup Parma yang baru Mgr Francesco Magani diberi nama “Seminari Emilia untuk Daerah-Daerah Misi Luar Negeri”.

Hingga sekitar 1897, para calon misionaris yang mengikuti pendidikan di rumah ini berjumlah 36 orang. Setahun kemudian, titik balik serikat misionaris ini dimulai dengan kedatangan Pastor Francesco Fogolla OFM, seorang misionaris yang bertugas di Cina, yang menceritakan pengalamannya menjalankan tugas misi di Cina. Kisahnya rupanya menarik hati dua orang anggota serikat misionaris, yaitu Pastor Caio Rastelli dan Frater Odoardo Manini.

Tahun 1899, dua orang muda ini berangkat ke Cina dengan Pastor Fogolla dengan tujuan Tai-Yuan, Ibu Kota Provinsi Shan-Si.

Setelah itu, Guido ditahbiskan menjadi Uskup Agung Ravenna. Tetapi, karena kondisi fisiknya yang lemah, ia memutuskan mengundurkan diri dari jabatannya dan kembali ke Parma untuk mendidik calon-calon misionaris. Di luar dugaan, ia malah didaulat kembali menjadi uskup menggantikan Uskup Parma, Mgr Francesco Magani.

Di tengah memburuknya kesehatan, Mgr Guido Conforti bersikeras pergi ke Cina menengok para misionaris didikannya yang berkarya di tempat itu. Semangatnya tak pernah surut. Begitu juga dengan Serikat Xaverian, serikat misionaris yang ia dirikan. Pemberontakan Boxer di Cina, pergolakan Fasis di Italia, dan situasi Perang Dunia I hingga II, beruntun dihadapi serikat ini. Namun, semangat Guido yang diamini dan diteladani para anggotanya membuat serikat ini tetap bertahan bahkan terus bertumbuh.


Santo Guido Maria Conforti 

• Oktober 1876: Masuk Seminari
• 22 September 1888: Ditahbiskan menjadi imam pada usia 23 tahun, kemudian ditugaskan menjadi Wakil Rektor Seminari Parma.
• Tahun 1890: Ditunjuk menjadi Rektor Seminari Parma, menggantikan Mgr Andreas Ferrari.
• Tahun 1895: Mengumpulkan 17 orang yang berminat menjadi calon imam misionaris
• November 1895: 17 calon imam misionaris mulai menjalani pendidikan di sebuah rumah, di Jalan Borgo del Leon d’Oro
• 3 Desember 1895: Serikat Xaverian diresmikan
• 4 Maret 1899: Pastor Caio Rastelli dan Frater Odoardo Manini, dua anggota Serikat Xaverian berangkat ke Tai-Yuan, Ibu Kota Provinsi Shan-si Cina, sebagai misionaris Serikat Xaverian yang pertama
• 12 Juni 1902: Ditahbiskan menjadi Uskup Agung Ravenna
• 12 Oktober 1904: Mengundurkan diri sebagai Uskup Agung Ravenna
• 14 November 1904: Ditunjuk sebagai Uskup (Agung) Koadjutor Parma, dan Uskup Agung Tituler Stauropolis
• 18 Januari 1904: Empat anggota Serikat Xaverian, yaitu Giuseppe Brambilla, Giovanni Sartori, Luigi Calza, dan Giovanni Bonardi, menjadi misionaris di Honan, Cina
• 12 Desember 1907: Menjadi Uskup Parma, dengan gelar Uskup Agung
• 5 November 1931: Mgr Guido Maria Conforti wafat
• 17 Maret 1996: Dibeatifikasi oleh Paus Yohanes Paulus II, mendapat gelar Beato
• 23 Oktober 2011: Dikanonisasi oleh Paus Benediktus XVI, mendapat gelar Santo

R.B. Yoga Kuswandon
o

Renungan harian 28 Desember 2011

| Selasa, 27 Desember 2011

Rabu, 28 Desember 2011

1Yoh 1:5-2:2,
Mzm 124:2-3,4-5,7b-8,
Mat 2:13-18
Bacaan Injil : Mat 2:13-18
Setelah orang-orang majus itu berangkat, nampaklah malaikat Tuhan kepada Yusuf dalam mimpi dan berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.”
Maka Yusufpun bangunlah, diambilnya Anak itu serta ibu-Nya malam itu juga, lalu menyingkir ke Mesir,dan tinggal di sana hingga Herodes mati. Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.”
Ketika Herodes tahu, bahwa ia telah diperdayakan oleh orang-orang majus itu, ia sangat marah. Lalu ia menyuruh membunuh semua anak di Betlehem dan sekitarnya, yaitu anak-anak yang berumur dua tahun ke bawah, sesuai dengan waktu yang dapat diketahuinya dari orang-orang majus itu.
Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia:
“Terdengarlah suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi.”

Renungan

Dalam perang sekalipun, anak-anak selalu mendapat prioritas perlindungan dari dua pihak yang bertikai. Sangatlah menyedihkan mendengar berita-berita tentang pembantaian anak-anak dalam perang-perang sektarian yang leanda berbagai kawasan di dunia. Dalam konflik Ambon, Poso, Sampit, dll, hal ini terjadi. Dalam konflik berwarna sama di Nigeria, anak-anak turut menjadi korban. Demikian pula di Rwanda dan Burundi. Sayangnya, dunia memandang dengan prihatin keadaan ini tetapi tidak banyak yang dilakukan. Bahkan ada gerombolan milisi yang menjadikan pemerkosaan kaum perempuan dan pembunuhan anak-anak sebagai metode melemahkan lawannya.
Pembantaian anak-anak ternyata menyertai kisah hidup Yesus sebagai bayi kecil, putera Yosef dan Maria. Oleh keserakahan atas kekuasaan, Herodes bertindak brutal dengan membunuh anak-anak di Betlehem. Ia berprinsip, cabutlah pokoh sebelum bertumbuh menjadi besar. Bunuhlah si bayi kecil raja baru, sebelum bertumbuh besar dan mengambil alih kekuasaan.
Dalam hidup sehari-hari, yang kuat menindas yang lemah seakan-akan telah menjadi paradigma umum, kendatipun secara formal ditolak banyak orang. Tapi inilah realitas hidup yang dihadapi sehari-hari. Sayangnya, banyak orang Kristiani pun bertindak demikian, seperti melecehkan martabat manusia, mematikan usaha orang kecil, merampas hak rakyat penguasa hutan tradisional suku-suku asli dan sebagainya. Semua ini cerminan watak dan mentalitas berkuasa seperti Herodes. Kita tentu tak ingin menjadikan Gereja sebagai himpunan kaum penindas. Marilah berbuat kebaikan dan memurnikan persekutuan umat Allah.
Sumber : Berjalan bersama sang sabda 2011

Renungan harian 27 Desember 2011- Tubuh Yesus hilang

| Senin, 26 Desember 2011

1Yoh 1:1-4,
Mzm 97:1-2,5-6,11-12,
Yoh 20:2-8
Bacaan Injil : Yoh. 20:2–8
Maria Magdalena berlari-lari men­dapatkan Simon Petrus dan murid yang lain yang dikasihi Yesus, dan berkata kepada mereka: ”Tuhan telah diambil orang dari kubur­nya dan kami tidak tahu di mana Ia diletak­kan.”
Maka berangkatlah Petrus dan murid yang lain itu ke kubur. Keduanya berlari bersama-sama, tetapi murid yang lain itu berlari lebih cepat dari pada Petrus sehingga lebih dahulu sampai di kubur. Ia menjenguk ke dalam, dan melihat kain kapan terletak di tanah; akan tetapi ia tidak masuk ke dalam. Maka datanglah Simon Petrus juga menyusul dia dan masuk ke dalam kubur itu. Ia melihat kain kapan terletak di tanah, sedang kain peluh yang tadinya ada di kepala Yesus tidak terletak dekat kain kapan itu, tetapi agak di samping di tempat yang lain dan sudah tergulung. Maka masuklah juga murid yang lain, yang lebih dahulu sampai di kubur itu dan ia melihatnya dan percaya.
Renungan
Maria Magdalena sangat terpukul. Yesus, yang diyakininya  sebagai Mesias, telah ditangkap dan disalibkan. Dia mencintainya dan  ia kembali ke kubur untuk meminyaki Tubuh-Nya,  untuk memberikan penguburan yang layak.
Tapi ketika ia sampai di sana, ia menemukan bahwa makam itu telah dibuka dan bahwa tubuh Yesus telah hilang.  yang dilihatnya hanyalah   kain kafan  yang telah digunakan  membungkus Yesus  sebelum  Ia dibaringkan di makam.
Pada waktu Yesus masih hidup, Maria telah mendengar Yesus mengatakan lebih dari sekali bahwa Dia akan mati dan bangkit kembali pada hari ketiga. Tetapi pada saat kesedihannya , ia hanya  fokus pada kematian  dan hilangnya  Yesus  .Dia merasa yakin bahwa tubuhnya telah dicuri.
Semua janji Yesus, semua keindahan ajaran-Nya, memudar dari ingatannya. Yang ia   pikirkan  hanya    makam yang kosong dan dia kehilangan imannya.
Tapi ketika Yohannes  memasuki makam yang sama dan melihat kain pemakaman yang sama, ia percaya (Yohanes 20:8). Sesuatu tercetus  dalam ingatannya  dan di dalam hatinya.Tidak seperti Maria, yang hanya bisa melihat apa yang ada di depannya, Yohanes melihat melampaui bukti fisik dan percaya bahwa Allah telah melakukan sesuatu yang sangat istimewa. Dia mungkin tidak mengerti sepenuhnya, tetapi dia percaya.
Dengan iman yang ia miliki, ia menunggu dengan sabar apa  yang hendak diungkapkan Tuhan . Jauh di lubuk, ia tahu bahwa Yesus tidak akan membiarkan dia sedih dan dia benar.
Hanya dua hari lalu, kita  merayakan   bahwa Mesias telah lahir di antara kita. Pada setiap Misa, kita ingat bahwa Mesias telah mati bagi kita dan bangkit. Biarkan kebenaran ini menggerakkan Anda untuk menjadi seperti Yohanes yang  menunggu dengan penuh semangat dan  sabar bagi Yesus untuk menyatakan diri Nya  kepada Anda hari ini.
Dan ketika iman Anda lemah, berserulah  kepada Tuhan dan katakan kepadanya bahwa Anda mengasihi nya. Berpeganglah  teguh pada iman yang Anda miliki, dan nantikanlah Tuhan untuk mengungkapkan dirinya lebih sepenuhnya untuk Anda.
Pada akhirnya, Anda akan menemukan manfaat besar dari Yesus sendiri!

Natal belum berakhir.

| Minggu, 25 Desember 2011
Bagi Gereja Katolik, Natal belum berakhir. Hari Raya Natal 25 Desember merupakan PEMBUKAAN dari Masa Natal. 

Dalam penanggalan liturgi, ada OKTAF NATAL yang berlangsung hingga tanggal 31 Desember. 
Masih banyak hari-hari istimewa yang berkaitan dengan misteri inkarnasi Sang Sabda. 

Pada tahun ini PESTA Kanak-kanak Suci (para kanak-kanak yg dibunuh oleh Herodes) jatuh pada 28 Desember, PESTA Keluarga Kudus jatuh pada 30 Desember, ada pula HARI RAYA St.Maria Bunda Allah yg selalu dirayakan pada 1 Januari, dan HARI RAYA Penampakan Tuhan (Epifani) yang dirayakan Gereja Katolik Indonesia pada 8 Januari. 

Akhirnya Masa Natal tahun ini DITUTUP pada 9 Januari yaitu pada hari PESTA Pembaptisan Tuhan. Selamat menjalani Masa Natal dengan penuh sukacita!!! :)

~IOJC (tu scis quia amo te)~




 

Copyright © 2010 Bacaan Injil Harian