Kata malaikat itu kepadanya: ”Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi.
Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” Kata Maria kepada malaikat itu: ”Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Jawab malaikat itu kepadanya: ”Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” Kata Maria: ”Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.
Renungan
Semakin dekat ke hari Natal, semakin dekat kita dihantar ke tokoh-tokoh kunci di seputar kelahiran Mesias yang memberi makna baru bagi hidup manusia. Sering kali suatu peristiwa hidup lebih dipahami ketika tokoh-tokoh pelaku pristiwa dipelajari, dilihat latar belakangnya, pandangan hidupnya, dan sebagainya. Pengetahuan atas latar belakang, filosofi hidup dan sebagainya itu memberi kita pemahaman, mengapa peristiwa ini terjadi demikian dan bukan seperti yang lain.
Peristiwa kelahiran Yesus sesungguh-nya hanya satu peristiwa kecil dan tersembunyi, yang tidak dikenal banyak orang Yahudi ketika itu. Mesias yang diutus, Raja baru, bukanlah seorang tokoh politis yang menegakkan kerajaan dunia. Sebagai raja damai, kekuasaan politik dan kekuatan militer tidak diperlukan. Maka tidak diperlukan pula sebuah lingkungan yang sarat dengan tradisi politik dan militer. Maka pilihan Tuhan jatuh ke pribadi sederhana Nazaret, Maria yang bertunangan dengan Yosef. Maria jelas seorang yang beriman teguh. Yosef tampil sebagai pribadi yang tulus. Kombinasi keduanya ini menjadi lingkungan yang tepat bagi sang Raja baru, Raja damai, yang menyelamatkan umat mamnusia.
Mari kita pun menjadikan pribadi kita sebagai tahta Raja damai. Kita makhluk lemah dan penuh dosa, tetapi berkat pertobatan dan rahmat pengudusan, kita pun dapat menjadi rumah bagi Tuhan yang hendak menjamah umat manusia dengan tangan kasihNya.
Sumber : Berjalan bersama sang Sabda 2011

0 komentar:
Posting Komentar