Selasa, 14 Februari 2012
Peringatan St. Serylius dan Metodius, Yohanes dari Aldomovar,
St. Maro, Abbas dan St. Valentinus
Mrk.6:1-6;
Memang menjadi sebuah kebenaran bahwa ketika kita tidak menggunakan mata kita dengan baik untuk melihat, ketika kita tidak menggunakan telinga kita untuk mendengarkan orang lain, ketika kita membiarkan mulut kita berbicara tanpa control otak dan hati, maka yang ada adalah salah paham, konflik, perkelahian bahkan perang. Karena itu, lagu anak-anak “hati-hati gunakan tangan, kaki, mulut, dll kiranya menjadi terus direnungkan setiap saat.
Injil hari ini menyajikan teguran Yesus kepada para murid yang masih mempunyai keraguan di dalam hati mereka, yang hanya mencari mujizat tanpa memiliki keteguhan iman terhadap-Nya. Yesus berkata; “Kalian mempunyai mata tapi tidak melihat, punya telinga tapi tidak mendengar."(Mrk.8:14-21) Semuanya terjadi karena kita tidak memiliki Yesus di dalam hati kita. Yesuslah yang memampukan Anda untuk melihat dengan kasih dan mendengarkan dengan setia setiap jeritan saudaramu.
Hanya dengan Yesus kita dapat melalui gelombang dan badai dunia ini tanpa takut; Hanya di dalam Yesus kita dapat menemukan kebahagiaan dan kedamaian abadi; Hanya bersama Yesus kecemasan dan ketakutan akan sirna di dalam hati dan pikiranmu.
Dan, menjadi sebuah kebenaran iman bahwa "hanya di dalam EKARISTIlah Yesus memberikan Diri-Nya sebagai makanan dan bekal abadi kepadamu menuju kehidupan yang kekal."
Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabatnya,
***Duc in Altum***
"KESETIAAN"
Diposting oleh
Denny
|
Semua orang ingin berhasil dalam hidup tapi hanya mereka yang SETIA menapaki tahap-tahap menuju puncaklah yang akan menggapainya."
Renungan: "TEMAN PERLU DOAMU, TAPI ALLAH MEMBUTUHKAN IMANMU"
Diposting oleh
Denny
|
Kamis, 12 Januari 2012
Jumat,13 Januari 2012
Peringatan St. Hilarius, Uskup dan Pujangga Gereja
Mrk.2:1-12
Dalam perjalanan kehidupan beriman, kadang kita tiba pada saat dimana iman menjadi lemah dan harapan seakan sirna akibat problem yang kita sendiri tak bisa tangani di satu pihak, tapi rasanya Allahpun seakan diam membisu terhadap permohonan dan doa-doa kita di lain pihak, sehingga kitapun berteriak bertanya; “Allah, dimanakah Engkau? Apakah Engkau diam membisu ketika aku harus menderita seperti ini?“
Meskipun demikian, Injil hari ini memberikan kita seberkas harapan bahwa iman teman, sahabat kenalan dan saudara/i kitapun sangat dibutuhkan dalam setiap derita kita. Ketika Yesus melihat iman keempat orang yang mengusung teman mereka yang lumpuh dan menurunkan dari atap rumah di hadapan-Nya, Iapun berkata kepada orang lumpuh itu; “Anak-Ku, dosamu telah diampuni...Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah!
Hanya mau mengatakan bahwa doa yang dipanjatkan oleh teman, saudara dan sahabat kenalan dengan penuh iman sangat besar manfaatnya bagi kita yang sedang goncang iman, yang sedang sakit dan bahkan tertimpah masalah hihup. Baik dia/mereka dan kita takan pernah tahu apa yang terjadi setelah doa, tapi Allah yang mengetahui dan menilik hati kita, akan memberikan yang terbaik kepada dia/mereka yang kita doakan. Dengan kata lain, sahabat/saudara kita membutuhkan doa kita, tapi Allah selalu membutuhkan iman yang kokoh kuat dari kita yang sedang mendoakan orang lain. Lakukanlah apa yang bisa Anda lakukan, yakni dengan berdoa, dan berilah waktu atau nantikanlah saat terindah dari Allah untuk mengabulkan doa-doamu.
Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabatnya,
***Duc in Altum***
Doa Angelus
Diposting oleh
Denny
|
Maria diberi kabar oleh malaikat Tuhan, bahwa ia akan mengandung dari Roh Kudus.Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuhmu, Yesus. Santa Maria, Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini sekarang dan pada waktu kami mati. Amin.
Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu.
Salam Maria ....
Sabda sudah menjadi daging, dan tinggal di antara kita.
Salam Maria ....
Doakanlah kami, ya Santa Bunda Allah, supaya kami dapat menikmati janji Kristus.
Ya Allah, karena kabar malaikat kami mengetahui bahwa Yesus Kristus Putra-Mu menjadi manusia; curahkanlah rahmat-Mu ke dalam hati kami, supaya karena sengsara dan salib-Nya, kami dibawa kepada kebangkitan yang mulia. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami. Amin.
Didoakan pada jam 6 pagi, jam 12 siang & jam 6 sore.
Sejarahnya : http://yesaya.indocell.net/
Menghindari Ketertarikan (Attraction) yang Fatal
Diposting oleh
Denny
|
Tulisan ini merupakan ringkasan dari artikel berseri yang didasarkan pada buku Men, Women and The Mystery of Love. Penulis aslinya, Edward P. Sri memberikan berbagai pemahaman yang mendalam tentang hubungan pria-wanita seperti yang terdapat pada buku Love and Responsibility yang ditulis oleh beato Yohanes Paulus II. Saya akan merangkum tulisan berseri tersebut dalam bahasa Indonesia. Artikel aslinya bisa dilihat disini.
Seorang pria tertarik pada kepribadian yang hangat dari seorang wanita, senyumnya yang manis dan kebaikannya kepada orang lain. Ketertarikan dasar seperti ini sering terjadi diantara pria dan wanita, bahkan terjadi cukup cepat : Seorang wanita melihat seorang pria berdoa di Gereja kemudian memikirkannya sepanjang hari; Pria dan wanita yang merupakan teman selama beberapa bulan akan saling mengalami ketertarikan satu sama lain baik itu secara emosional atau secara fisik.
Dalam buku Love and Responsibility, Yohanes Paulus II menganalisa anatomi ketertarikan. Apa yang sungguh terjadi ketika pria dan wanita saling tertarik satu sama lain?
Anatomi Ketertarikan
Pada tingkat yang paling dasar, tertarik kepada seseorang berarti dianggap oleh seseorang sebagai sebuah kebaikan (hal. 74). Untuk mengalami ketertarikan pada orang lain, berarti ia memahami suatu nilai dalam pribadi orang itu (seperti kecantikan, kepribadian, dst) dan merespon terhadap nilai tersebut. Ketertarikan tersebut melibatkan indra, pikiran, kehendak, emosi dan keinginan (desire) kita.
Ketertarikan terjadi begitu mudah karena adanya dorongan seksual, yaitu kecenderungan untuk mencari seseorang yang berbeda jenis kelamin. Dorongan seksual mengarahkan seseorang secara khusus pada kualitas fisiologis dan psikologis dari pribadi yang berbeda jenis kelamin – tubuh dan maskulinitas atau feminitas mereka. Yohanes Paulus II menyebut kualitas fisik dan psikologis ini sebagai “nilai seksual” seorang pribadi.
Karenanya, seseorang tertarik dengan lawan jenis dalam 2 cara : secara fisik dan emosional. Pertama, pria tertarik secara fisik kepada tubuh wanita, dan sebaliknya. Ketertarikan ini disebut sensualitas tubuh.
Kedua, pria tertarik secara emosional pada feminitas wanita, dan sebaliknya. Hal ini disebut ketertarikan sentimentalitas emosional. Pada artikel ini, kita akan fokus pada ketertarikan sensual yang dialami pria dan wanita satu sama lain.
Indra dan Sensualitas
Sensualitas berkaitan dengan nilai seksual yang dihubungkan pada tubuh pribadi lawan jenis. Ketertarikan ini tidaklah buruk karena dorongan seksual dimaksudkan untuk menarik kita bukan semata-mata kepada tubuh, tapi kepada tubuh seorang pribadi. Karenanya reaksi sensual awal diarahkan pada persatuan personal (bukan sekedar persatuan fisik), dan berperan sebagai bahan dalam membenuk cinta yang autentik bila di integrasikan dengan aspek-aspek cinta yang lebih tinggi dan mulia seperti kehendak baik (good will), persahabatan, kebajikan (virtue), dan komitmen pemberian diri (self-giving commitment) (hal. 108).
Ketertarikan sensual ini dapat menuntun pada bahaya besar. Pertama, “sensualitas sendiri bukanlah cinta dan dapat dengan meudah menjadi yang bertentangan dengannya” (hal. 108). Alasannya adalah karena sensualitas bisa dengan mudah jatuh ke dalam utilitarianisme. Hanya ketika sensualitas dialami, kita mengalami tubuh pribadi lain sebagai “objek yang berpotensi memunculkan kenikmatan.” Kita mereduksi pribadi hanya pada kualitas fisik – tubuhnya saja. Dan kita melihatnya sebagai objek yang memberikan kesenangan dari kualitas tersebut.
Hal yang paling tragis adalah ketika keinginan sensual (sensual desire) yang diarahkan pada persatuan pribadi dengan orang berbeda jenis kelamin, bisa mencegah kita dari mencintai pribadi tersebut. Contohnya, pria yang secara aktif mencari tubuh wanita sebagai sarana untuk memenuhi kepuasan seksnya. Ia hanya fokus pada nilai seksual – khususnya kesenangan yang didapat dari nilai tersebut – sampai pada titik dimana ketertariakn sensual ini mencegahnya untuk merespon pada nilai tersebut sebagai seorang pribadi. Oleh karena itulah, sensualitas adalah buta bagi tiap pribadi dan “sensualitas memiliki orientasi consumer – ia diarahkan terutama kepada sebuah ‘tubuh’ : ia menyentuh pribadi hanya secara tidak langsung, dan cenderung menghindari kontak langsung” (hal. 105)
Mencintai Coklat?
Kedua, sensualitas juga bisa gagal dalam memahami keindahan sejati tubuh. Keindahan atau kecantikan dialami melalui kontemplasi, bukan keinginan untuk mengeksploitasi. Kontemplasi pada keindahan mendatangkan kedamaian dan sukacita, sedangkan “sikap konsumer” yang mengekploitasi objek demi kesenangan mendatangkan ketidaksabaran, kegelisahan, dan keinginan yang kuat untuk kepuasan.
Mari kita menggunakan analogi. Seseorang memiliki kesempatan melihat karya ‘seniman coklat’. Ia menampilkan berbagai coklat yang berbentuk kapal, bunga, burung, menara dan bangunan. Semuanya terbuat dari coklat, coklat hitam dan coklat putih.
Terdapat dua sikap yang bisa kita arahkan terhadap bentuk-bentuk coklat tersebut. Di satu sisi, seseorang bsia melihatnya sebagai karya seni, mengagumi keindahan dan membiarkan dirinya dibawa oleh kebesarannya, proporsi coklat yang sempurna, detailnya yang sulit dimengerti, kemahiran pembuatnya, merasa kagum dan heran bahwa masterpiece tersebut dibuat dari gula dan coklat.
Di sisi lain, seseorang bisa melihatnya sebagai makanan untuk dilahap – coklat yang lezat akan memuaskan rasa lapar! Sikap ini mereduksi karya coklat tersebut sebagai objek semata-mata untuk dieksploitas demi kesenangan individu. Disini, sensualitas agal memahami tubuh manusia sebagai masterpiece ciptaan Allah yang indah, karena ia mereduksi tubuh sebagai objek untuk dieksploitasi untuk memuaskan keinginan sensual individu.
Michelangelo dan Playboy
Pornografi dan karya seni yang mengambarkan tubuh telanjang memiliki perbedaan. Pornografi pada majalah playboy, tidak menarik perhatian orang pada keindahan tubuh manusia, melainkan ia menarik perhatian pada tubuh sebagai objek untuk digunakan dalam memuaskan hasrat seksual seseorang. Pornografi mereduksi tubuh manusia pada nilai seksual tubuh. Sebaliknya, karya seni yang menggambarkan tubuh telanjang manusia sebagai sesuatu yang indah tidak mereduksi pribadi manusia, namun membawa pada kontemplasi misteri pribadi manusia sebagai masterpiece dalam ciptaan Allah. Karya seni menuntun individu pada kontemplasi keindahan, kebenaran, dan kebaikan tubuh manusia, sedangkan pornografi membawa seseorang untku mereduksi tubuh manusia sebagai objek yang dapat dieksploitasi. Tidak banyak orang akan jatuh dalam dosa karena melihat lukisan Michelangelo yang menggambarkan Adam dan Hawa di kapel Sistine, tapi akan ada banyak pria yang jatuh pada dosa karena pikiran bernafsu ketika melihat gambar-gambar di majalah Playboy!
Diperbudak oleh Sensualitas
Sensualitas, jika dibiarkan tanpa diperiksa begitu saja, akan menjadi budak bagi segala hal yang menstimulasi keinginan sensual kita. Contohnya, ketika seorang pria bertemu wanita yang berpakaian dengan cara tertentu, ia tidak akan bisa melihatnya tanpa berpikiran kotor terhadapnya. Ketika ia melihat gambar wanita di TV, ia tidak bisa melawan untuk tidak melihatnya, karena ia sangat mendambakan nilai seksual wanita itu dan ingin menikmati kesenangan yang didapat dengan melihatnya.
Dengan budaya Amerika yang secara konstan membombardir orang-orang dengan gambar seksual yang mengeksploitasi sensualitas, orang diajak untuk fokus pada tubuh saja. Dan dengan mudah orang diperbudak, dibawa dari satu nilai seksual pada nilai seksual lainnya. Seperti yang dikatakn Yohanes Paulus II, sensualitas itu sendiri “berubah-ubah, berbalik dimanapun ia menuemukan nilai, kapanpun ‘objek yang berpotensi menimbulkan kenikmatan’ muncul.” (hal. 108)
“Aku Bisa Melihat, Tapi Tidak Bisa Menyentuh”
Paus memperingatkan bahwa seseorang tidak bisa menggunakan tubuh pribadi lain bahkan ketika pribadi tersebut tidak hadir secara fisik. Ia tidak perlu melihat, mendengar, atau menyentuh untuk mengeksploitasi tubuh seseorang demi memperoleh kesenangan sensual. Contohnya : Pria bisa menggunakan memori dan imajinasinya untuk “berhubungan dengan ‘tubuh’ wanita yang tidak hadir secara fisik, mengalami nilai tubuh itu sejauh ia membetuk ‘objek yang mungkin memberikan kenikmatan’” (hal. 108-109)
Pria juga sering membenarkan tindakan mereka dengan berkata “tidak ada salahnya untuk berpikiran kotor /mesum tentang wanita, aku tidak melukai siapapun ketika melakukannya!” Bahkan pria yang telah menikah juga bisa berpikir “Aku tidakberzinah ketika melihat wanita dengan cara ini [maksudnya dengan berpikiran mesum/kotor]. Aku bisa melihat, hanya tidak bisa menyentuhnya”. Menanggapi hal tersebut, kita harus mengingat perkataan Kristus : “Every one who looks at a woman lustfully has already committed adultery with her in his heart” – Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Mat 5 : 28)
Singkatnya, Yohanes Paulus II menekankan bahwa sensulitas saja bukanlah cinta. Ia bisa menjadi “bahan mentah” untuk perkembangan cinta sejati. Tapi kerinduan pada nilai seksual tubuh harus dilengkapi dengan elemen-elemen cinta lainnya yang lebih mulia, seperti kehendak baik, persahabatan, kebajikan, komitmen total, cinta yang memberi diri (self-giving love, tema ini akan didiskusikan di artikel selanjutnya). Jika sensualitas tidak diintegrasikan dengan elemen cinta lainnya, keinginan sensual akan merusak sebuah hubungan. Faktanya ia bisa menghancurkan cinta antara pria dan wanita, dan dapat mencegah cinta berkembang diantara pria dan wanita.
(Bagi yg tdk bisa buka link, Repost : Gereja Katolik)
Renungan Hari ini: "MAUKAH ENGKAU SEMBUH?"
Diposting oleh
Denny
|
Rabu, 11 Januari 2012
Kamis, 12 Januari 2012
Peringatan Sta. Hilda, Abbas, St. Modestus, Uskup dan Abbas dan St. Alred
Mrk.1:40-45;
Injil hari ini menceritakan tentang kisah kesembuhan seorang yang sakit kusta. Ia datang kepada Yesus dan berkata; “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Tergerak oleh belas kasihan, Yesuspun menjawabnya: “Aku mau, jadilah tahir!” Sungguh, Yesus datang bukan hanya sebagai Penyelamat tapi juga sebagai Penyembuh. Dialah dokter ajaib yang dapat menyembuhkan karena kekuatan kuasa yang ada di dalam Diri-Nya. Sabda-Nya adalah obatnya, tapi imanmulah yang mengizinkan kesembuhan itu terjadi padamu.
Pagi ini, kita membalikkan pertanyaan dalam bacaan hari ini sehingga masing-masing dari kita siap mendengarkan pertanyaan Yesus; “Maukah engkau sembuh, putra-putriku?” Mengapa? Karena banyak orang bukan hanya sakit fisik tapi lebih dari itu sebenarnya kita menderita sakit psikis alias luka-luka batin, yang dipelihara dan dipupuk oleh dendam dan iri hati, sehingga luka itu semakin hari semakin menganga dan menyengsarakan. Ada saja di antara kita yang tidak mau memaafkan atau sebaliknya tidak mau meminta maaf atas salah dan dosanya. Ada saja diantara kita yang tidak puas ketika dendamnya belum terbalaskan, dan beragam contoh lainnya. Semuanya membuat kita bukan hanya terkapar dalam sakit fisik tapi lebih dari itu sakit hati atau luka-luka batin, yang mengikat dan merongrong kesehatan tubuh dan jiwa kita.
Oleh karena itu, kuyakinkan engkau pagi ini bahwa Yesus ingin menyembuhkanmu, tapi apakah engkau ingin sembuh atau disembuhkan? Kesembuhan fisik dan psikismu hanya terjadi atas izinmu sama seperti luka-luka yang terjadi padamu atas izinmu sendiri.
Salam dan doa dari seorang sahabat untuk para sahabatnya,
***Duc in Altum***
Sumber: Gereja Katolik
Peringatan Sta. Hilda, Abbas, St. Modestus, Uskup dan Abbas dan St. Alred
Mrk.1:40-45;
Injil hari ini menceritakan tentang kisah kesembuhan seorang yang sakit kusta. Ia datang kepada Yesus dan berkata; “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Tergerak oleh belas kasihan, Yesuspun menjawabnya: “Aku mau, jadilah tahir!” Sungguh, Yesus datang bukan hanya sebagai Penyelamat tapi juga sebagai Penyembuh. Dialah dokter ajaib yang dapat menyembuhkan karena kekuatan kuasa yang ada di dalam Diri-Nya. Sabda-Nya adalah obatnya, tapi imanmulah yang mengizinkan kesembuhan itu terjadi padamu.
Pagi ini, kita membalikkan pertanyaan dalam bacaan hari ini sehingga masing-masing dari kita siap mendengarkan pertanyaan Yesus; “Maukah engkau sembuh, putra-putriku?” Mengapa? Karena banyak orang bukan hanya sakit fisik tapi lebih dari itu sebenarnya kita menderita sakit psikis alias luka-luka batin, yang dipelihara dan dipupuk oleh dendam dan iri hati, sehingga luka itu semakin hari semakin menganga dan menyengsarakan. Ada saja di antara kita yang tidak mau memaafkan atau sebaliknya tidak mau meminta maaf atas salah dan dosanya. Ada saja diantara kita yang tidak puas ketika dendamnya belum terbalaskan, dan beragam contoh lainnya. Semuanya membuat kita bukan hanya terkapar dalam sakit fisik tapi lebih dari itu sakit hati atau luka-luka batin, yang mengikat dan merongrong kesehatan tubuh dan jiwa kita.
Oleh karena itu, kuyakinkan engkau pagi ini bahwa Yesus ingin menyembuhkanmu, tapi apakah engkau ingin sembuh atau disembuhkan? Kesembuhan fisik dan psikismu hanya terjadi atas izinmu sama seperti luka-luka yang terjadi padamu atas izinmu sendiri.
Salam dan doa dari seorang sahabat untuk para sahabatnya,
***Duc in Altum***
Mrk.1:40-45;
Injil hari ini menceritakan tentang kisah kesembuhan seorang yang sakit kusta. Ia datang kepada Yesus dan berkata; “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” Tergerak oleh belas kasihan, Yesuspun menjawabnya: “Aku mau, jadilah tahir!” Sungguh, Yesus datang bukan hanya sebagai Penyelamat tapi juga sebagai Penyembuh. Dialah dokter ajaib yang dapat menyembuhkan karena kekuatan kuasa yang ada di dalam Diri-Nya. Sabda-Nya adalah obatnya, tapi imanmulah yang mengizinkan kesembuhan itu terjadi padamu.
Pagi ini, kita membalikkan pertanyaan dalam bacaan hari ini sehingga masing-masing dari kita siap mendengarkan pertanyaan Yesus; “Maukah engkau sembuh, putra-putriku?” Mengapa? Karena banyak orang bukan hanya sakit fisik tapi lebih dari itu sebenarnya kita menderita sakit psikis alias luka-luka batin, yang dipelihara dan dipupuk oleh dendam dan iri hati, sehingga luka itu semakin hari semakin menganga dan menyengsarakan. Ada saja di antara kita yang tidak mau memaafkan atau sebaliknya tidak mau meminta maaf atas salah dan dosanya. Ada saja diantara kita yang tidak puas ketika dendamnya belum terbalaskan, dan beragam contoh lainnya. Semuanya membuat kita bukan hanya terkapar dalam sakit fisik tapi lebih dari itu sakit hati atau luka-luka batin, yang mengikat dan merongrong kesehatan tubuh dan jiwa kita.
Oleh karena itu, kuyakinkan engkau pagi ini bahwa Yesus ingin menyembuhkanmu, tapi apakah engkau ingin sembuh atau disembuhkan? Kesembuhan fisik dan psikismu hanya terjadi atas izinmu sama seperti luka-luka yang terjadi padamu atas izinmu sendiri.
Salam dan doa dari seorang sahabat untuk para sahabatnya,
***Duc in Altum***
Sumber: Gereja Katolik
Renungan: ENGKAU MEMERLUKAN MUJIZAT, TAPI YESUS MEMBUTUHKAN IMAN DAN CINTAMU
Diposting oleh
Denny
|
Senin, 09 Januari 2012
Selasa, 10 Januari 2012
Peringatan St. Gregorius X, Paus dan Martir, St. Agatho, Paus dan Pengaku Iman dan St. Petrus Orseola, Pengaku Iman
Mrk.1:21-28
Fenomena iman dan orang beriman dewasa ini ketika tuntutan hidup semakin tinggi dan berat, ketika banyak problem muncul dalam relasi antar manusia, maka orang-orang beriman cenderung mencari mujizat dan tanda-tanda heran yang tentunya dengan harapan agar tubuh/raga disembuhkan dan hati serta jiwa mendapatkan kedamaian. Karena itu, tak heran bila ada pastor atau pendeta atau siapa saja yang mempunyai talenta/karisma menyembuhkan atau bahkan “yang berpura-pura” pun selalu digandrungi oleh banyak orang beriman, dan bahkan orang rela mengorbankan apa saja untuk bertemu dengannya.
Injil hari ini menceritakan tentang pengusiran roh jahat oleh Yesus. Si jahat mengenali Yesus sehingga ia berkata; “Aku tahu siapakah Engkau – Yang Kudus dari Allah.” Yesus menghardiknya; “Diam! Keluarlah daripadanya!” Syukur kalau ada yang masih mengusir roh jahat dengan kuasa dan dalam Nama Yesus. Akan tetapi, jika roh jahat diusir dengan kekuatan magic atau ilmu gaib lainnya. Apa bedanya roh jahat dengan yang mengusirnya?
Karena itu, jika karena imanmu akan Yesus Anda disembuhkan, maka bersyukurlah! Akan tetapi, hal yang terpenting dalam soal iman adalah kepasrahan total akan kuat kuasa Allah. Yesus tidak ingin kita mengimani-Nya hanya karena mujizat atau tanda heran saja, melainkan iman yang berdasarkan keputusan bebas seseorang. Cinta akan Yesus sehingga mengimani-Nya jauh lebih indah daripada kebutuhan akan sebuah tanda heran/mujizat. Apa yang aku yakini bahwa ketika engkau memiliki iman yang kokoh kuat akan Yesus maka segala sesuatu yang Anda lihat, lakukan dan rasakan adalah tanda-tanda heran yang membuatmu terkagum-kagum akan cara-Nya Yesus mencintaimu.
Salam dan doa dari seorang sahabat untuk para sahabat,
***Duc in Altum***
